| Kabar Dari Remaja Perempuan Indramayu |
Kali ini saya datang ke Desa Amis dan Dadap di Indramayu untuk reuni, mendengarkan cerita-cerita sahabat lama yang pada tahun 2007 lalu ikut dalam program kerjasama kami dengan Unicef, yaitu Aku dan Indramayu. Singkat cerita tentang Aku dan Indramayu, program ini bertujuan agar remaja perempuan bisa menyampaikan pendapat mereka pada masyarakat sekitarnya melalui video diary, tentang kondisi, persoalan yang mereka hadapi di tempat mereka tinggal. Selama 3 bulan 13 remaja perempuan di dua desatersebut memproduksi videonya dan menyampaikannya ke bapak, Ibu, teman, perangkat desa melalui pemutaran di beberapa desa di Indramayu, juga di Bapeda. Ada 4 inti pesan dari mereka di tahun itu:
Tiga tahun lebih sudah berlalu sejak mereka mempunyai pendapat tersebut. Seperti apa mereka sekarang? Yang berpesan kalau mereka tidak ingin kawin muda dan mempertanyakan pergaulan di kampungnya sekarang sebagian besar sudah menikah, ada yang mungkin sedang hamil, ada yang cerai saat hamil 3 bulan, ada yang sudah menikah dan adem ayem. Begini obrolan mereka yang saya anggap penting karena menggambarkan apa yang sedang mereka hadapi : Yang mungkin sedang hamil bercerita kalau sejak puasa dia tidak mens namun hasil tes pack yang dicobanya negatif, “ Kata tukang urut tuh Mbak, nggak ada apa-apa di sini (katanya sambil menunjuk perut) tapi kalau lihat susune, itu tandanya hamil. Ke Bidan wegah, wedi (Nggak mau ke bidan, takut)”. Dia terdiam sebentar lalu bertanya, “Apa jangan-jangan ada penyakit ya Mbak, bisa nggak sih sakit karena nggak mens ?” Yang ditinggal suaminya untuk kawin lagi, sambil mengayun-ayunkan bayi 5 bulan didalam gendongan kain bercerita kalau bayinya belum pernah diimunisasi karena sering sakit-sakitan. “Kata bidannya tuh nunggu si Merdi pit (fit), baru nanti disuntik”. Yang adem ayem rumah tangganya bercerita “Saya mah bersyukur mbak, suami saya setia, sayang sama saya, jarang disini ada laki-laki kayak gitu” Cerita lain datang dari yang ingin meneruskan sekolah, dia bercerita, “ Alhamdulilah mbak, baru tadi pagi ini saya bisa ambil ijazah, padahal tuh sebelumnya nggak bisa, kata pak kepala sekolah saya harus melunasi seluruh administrasinya terebih dahulu. Saya harus bayar hampir 3 juta Mbak, Dulu sih cuma disuruh belajar aja sama guru, nggak usah mikirin biaya, makanya saya juga masuknya ke SMK gratis ini Mbak. Ternyata saya harus bayar SPP bulanan, biaya tahunan, Uji Kompetensi, Baju Korp SMK, Photo, Kunjungan Hotel, ada rinciannya di sekolah. Yang bantu guru-guru saya. Sampai kemarin itu saya masih kurang bayar 361 ribu, tapi ya dari mana saya bisa bayar. Trus guru saya akhirnya yang bayar, dia pake gajinya yang bulan depan” Cerita lain lagi datang dari yang bercita-cita menjadi TKW. Dan ternyata dia berhasil! Dia bekerja di Syiria selama 3,5 tahun menjadi pembantu seorang ibu berusia 75 tahun. “ Majikan saya baik mbak, saya sih cuma ngepel aja dan makan terus. Yang masak majikan saya, hihihihihi. Ini foto-foto majikan saya. Foto-foto sedang dipeluk, dicium dan sedang tertawa ditengah keluarga majikannya. “ Besok saya ke Jakarta Mbak, mau pasporan dan medical, bulan depan berangkat lagi”. Sementara itu peserta yang dulunya bercita-cita meneruskan sekolah tapi akhirnya bekerja di Oman,wajahnya mengeras setiap kali dia ingat majikannya yang pelit dan cerewet. “ Harusnya saya pulang dari bulan 5 Mbak, mana saya kangen banget sama anak saya. Saya kan ninggal dia waktu dia umur 4 bulan. Susah banget mau pulang, tiap kali minta tiket disuruh nunggu sampai anak majikan saya lahir, eh udah lahir neh disuruh nunggu sampai anaknya sebulan. Akhirnya sebulan saya nggak mau ngapa-ngapain, saya banting piring di dapur, saya bentak lagi kalau majikan saya bentak. Harus gitu Mbak, awalnya sih saya takut dan nangis aja kalau dibentak, tapi semakin kita itu ya diem aja, semakin diteken. Mana anaknya nakal nakal, belum lagi disuruh makanin kambing punya ibunya. Nggak ada di perjanjian itu Mbak. “Kambing?”, tanya saya. Iya, yaaaah Mbak, Oman itu kalo di Indonesia bukan Jakartanya tapi ya kayak disini ini, Indramayunya sana, kampung. Saya pulang ini kangen sama anak, pengen banget anak saya itu manja-manja sama saya. Tapi saya ini dikira tantenya. Tiap kali adik saya ngingetin si Egi kalo saya ibunya, dia nggak mau”. Saya menjadi pendengar dalam reuni yang singkat dan hangat itu, sambil terus mengingat bahwa penggalan kisah-kisah itu datang dari perempuan muda yang umurnya tidak lebih dari 19 tahun. warnadi, thamancommunity |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar