Jumat, 04 Februari 2011

JIHAD

Jihad Julia”; Mengembalikan Makna Jihad Sesungguhnya

juliaMendengar kata “jihad”, pasti yang terlintas dalam benak kita adalah segala sesuatu yang identik dengan peperangan, perjuangan dalam mencapai perubahan. Namun buku yang ditulis oleh Julia Suryakusuma—akrab disapa Julia—yang berjudul “Jihad Julia”, ini memberi makna tersendiri tentang makna jihad. Sebuah pertanyaan muncul, mengapa menggunakan kata “jihad"? Apakah jihad di sini termasuk dalam konteks jihad? Masih rancu. Maka dalam buku ini Julia berusaha menjelaskan mengapa dirinya menggunakan kata jihad.
“Karena ingin mengembalikan makna jihad yang tereduksi, dipersempit sehingga maknanya mendekati makna kekerasan. Padahal tidak demikian.” Demikian Julia memulai pemaparannya saat hadir dalam acara bedah buku “Jihad Julia” (Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia)”, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) bekerjasama dengan Mizan Group, pada kamis (27/01) di Toko Buku Gramedia Cirebon.
Segala yang mengandung kekerasan tentang jihad, dirubah menjadi pengetahuan yang dikemas dengan bahasa yang cair dan humoris dalam tulisannya. Tulisan dalam buku ini adalah kumpulan kolom yang ditulis Julia dalam Koran harian The Jakarta Post dan Tempo.
Selain menghadirkan penulis buku, acara bedah buku yang dimoderatori Devida, mahasiswa ISIF, ini juga menghadirkan dua narasumber pembanding. Yaitu Lies Marcoes Natsir—akrab disapa mba Lies—, salah seorang penggerak feminisme Islam pertama di Indonesia, selain itu pembanding kedua yaitu Marzuki Wahid, Direktur Fahmina-Institute Cirebon.
Muslimah “Garis Batas"
Muslimah “Garis Batas”, demikian istilah untuk sosok Julia seperti diungkapkan Rektor UIN Syarif Hidayatullah dalam bukunya. Karena latarbelakang akademiknya tidak berkaitan dengan keislaman. Menurut Marzuki Wahid, Julia memang tidak mempunyai background agama yang kuat, namun perspektifnya sangat islami. Karena belajar Islam bukan hanya dari teks saja namun dari spiritnya, sehingga tanpa harus menyebutkan agama, tulisan ini sangat religious.
“Jihad Julia” menghadirkan gagasan intelektual dan kepedulian seorang kolumnis perempuan Indonesia. Penuh wawasan dan pemikiran intelektual demi memperjuangkan kepedulian, keterbukaan, rasionalitas dan prikemanusiaan. Diceritakan juga pengalamannya dengan Kiyai Feminis Islam sekaligus salah satu pendiri Fahmina-institute Cirebon, yaitu KH Husein Muhammad—akrab disapa Buya Husein. Dia menuturkan, Julia adalah salah satu Mbah-nya yang memberi pencerahan terhadap pemikiran Buya Husein.
Sementara mba Lies memaparkan, dalam buku tersebut Julia menggunakan feminis sebagai ‘pisau’ analisis dalam penelitian sosialnya. Feminis adalah orang yang melihat adanya ketimpangan dan basis dari ketimpangannya adalah kesalahan dalam anggapan seks. Feminis selalu menganalisis realitas sosial dengan pendekatan hubungan ini.
Dengan gaya bertuturnya yang mengalir serta memadukan antara penglihatan dengan teori secara kritis namun jenaka, “Jihad Julia” juga menyuguhkan analisis terkait sejumlah gugatan kasus korupsi di negeri ini. Seperti kasus Gayus Tambunan, sang makelar pajak, yang hingga saat ini belum terselesaikan di pengadilan. Serta kasus Bank Indonesia (BI) yang menuntut Susilo Bambang Yudoyono (SBY), yang mau tidak mau harus mengorbankan Sri Mulyani Indrawati.
Hobi menulis yang digelutinya sejak tahun 1970-an, membuatnya selalu ingin menuliskan pengalaman-pengalaman baru yang belum diketahuinya. “Dalam menulis memerlukan kerja otak yang kuat, dan ini menjadi tantanan untuk saya terus menulis. Saya menyebut diri sendiri anarkhis, dalam artian berbeda dengan orang lain. Selalu melintasi batas dalam perjalanan kehidupan,” papar Julia.(Lili)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar