Jumat, 04 Februari 2011

FAKTA & REALITA

Lintas Agama dan Pemuda; Inilah 9 Kebohongan Baru Pemerintah

kabinetJAKARTA, KOMPAS.com — Selain menyampaikan pernyataan terkait sembilan kebohongan lama pemerintah, tokoh-tokoh lintas agama dan pemuda juga membacakan sembilan kebohongan baru pemerintah yang terjadi sepanjang 2010. Hal itu disampaikan Senin (10/1/2011) di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta.
Sembilan kebohongan baru pemerintah itu berkenaan dengan kebebasan beragama; kebebasan pers; perlindungan terhadap TKI-pekerja migran; transparansi pemerintahan, pemberantasan korupsi; pengusutan rekening mencurigakan (gendut) perwira polisi; politik yang bersih, santun, beretika; kasus mafia hukum yang salah satunya adalah kasus Gayus H Tambunan; dan terkait kedaulatan NKRI.
Salah seorang pemuda, Riza Damanik, menyampaikan, kebohongan pertama pemerintah adalah saat presiden berpidato pada 17 Agustus 2010 yang isinya menjunjung tinggi pluralisme, toleransi, dan kebebasan beragama. Padahal kenyataannya, janji tersebut tidak terpenuhi.
Sepanjang 2010 terjadi 33 penyerangan fisik atas nama agama. "Mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengatakan, 2009 terjadi 40 kasus kekerasan ormas, 2010 menjadi 49 kasus," katanya.
Kebohongan kedua, terkait kebebasan pers. Presiden menjanjikan jaminan terhadap kebebasan pers dan kepolisian berjanji akan menindak tegas setiap kasus kekerasan terhadap insan pers. "Namun, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mencatat selama 2010 kasus kekerasan pers sebanyak 66 kasus meningkat dari 2009 yang 56 kasus," kata Riza.
Ketiga, kebohongan terkait perlindungan terhadap TKI atau pekerja migran. Presiden berjanji akan melengkapi TKI dengan telepon genggam agar tidak terjadi ketertutupan informasi, tetapi nyatanya, telpon genggam tidak juga diberikan dan memorandum untuk melindungi para TKI tidak juga dilakukan.
Keempat, terkait transparansi pemerintahan. Aktivis pemuda, Stefanus Gusma, membacakan, Presiden SBY menyatakan bahwa kepindahan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke Bank Dunia adalah atas dasar permintaan Bank Dunia. Namun, di sebuah media nasional diungkapkan bahwa kepindahan Sri Mulyani sesungguhnya merupakan paksaan dari Presiden. Seorang pejabat Kementerian Keuangan mengatakan, Sri Mulyani tidak pernah berniat mengundurkan diri.
Kelima, lanjut Gusma, terkait pemberantasan korupsi. Presiden berkali-kali berjanji akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi di Indonesia. "Namun, riset ICW, dari pernyataan SBY yang mendukung korupsi, hanya 24 persen yang terlaksana," katanya.
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, melanjutkan, kebohongan keenam pemerintah adalah pengusutan rekening gendut para pewira Polri. Presiden menginstruksikan jika ada pelanggaran hukum, yang terkait harus diberikan sanksi. Jika tidak, Kapolri harus menjelaskan kepada masyarakat.
Namun kenyataannya, kata Haris, sampai saat ini baik masalah rekening gendut maupun pelaku penganiayaan aktivis ICW Tama S Langkan masih misterius. "Bahkan 7 Agustus 2010 dan 29 Desember 2010 dua Kapolri mengatakan, kasus ini ditutup," katanya.
Kebohongan ketujuh, Presiden menjanjikan politik yang bersih, santun, dan beretika. Padahal kenyataannya, lanjut Haris, hingga kini, Andi Nurpati masih menjadi pengurus Partai Demokrat meskipun sudah diberhentikan tidak hormat oleh Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Andi Nurpati melanggar peraturan KPU," imbuhnya.
Kedelapan, lanjut aktivis ICW, Tama S Langkun, terkait kasus mafia hukum. Kapolri Jenderal Timur Pradopo berjanji menyelesaikan kasus pelesiran terdakwa mafia pajak Gayus H Tambunan dalam 10 hari. Tapi kenyataannya tidak ada keterangan pers tentang hal tersebut.
"Kapan Gayus keluar, pergi naik apa, dengan siapa, aktivitasnya, sekarang malah mencuat kasus baru, Gayus pelesir ke luar negeri," kata Tama.
Dan kesembilan, kebohongan pemerintah menyangkut kedaulatan NKRI. Pada 1 September di Mabes TNI Cilangkap Presiden menyampaikan bahwa perlakuan tidak patut terhadap tiga petugas KKP sedang diusut. Pemerintah Malaysia sedang menginvestigasi masalah tersebut. "Tapi sampai saat ini tidak pernah diumumkan penjelasan atau hasil investigas apa pun," pungkas Tama

JIHAD

Jihad Julia”; Mengembalikan Makna Jihad Sesungguhnya

juliaMendengar kata “jihad”, pasti yang terlintas dalam benak kita adalah segala sesuatu yang identik dengan peperangan, perjuangan dalam mencapai perubahan. Namun buku yang ditulis oleh Julia Suryakusuma—akrab disapa Julia—yang berjudul “Jihad Julia”, ini memberi makna tersendiri tentang makna jihad. Sebuah pertanyaan muncul, mengapa menggunakan kata “jihad"? Apakah jihad di sini termasuk dalam konteks jihad? Masih rancu. Maka dalam buku ini Julia berusaha menjelaskan mengapa dirinya menggunakan kata jihad.
“Karena ingin mengembalikan makna jihad yang tereduksi, dipersempit sehingga maknanya mendekati makna kekerasan. Padahal tidak demikian.” Demikian Julia memulai pemaparannya saat hadir dalam acara bedah buku “Jihad Julia” (Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia)”, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) bekerjasama dengan Mizan Group, pada kamis (27/01) di Toko Buku Gramedia Cirebon.
Segala yang mengandung kekerasan tentang jihad, dirubah menjadi pengetahuan yang dikemas dengan bahasa yang cair dan humoris dalam tulisannya. Tulisan dalam buku ini adalah kumpulan kolom yang ditulis Julia dalam Koran harian The Jakarta Post dan Tempo.
Selain menghadirkan penulis buku, acara bedah buku yang dimoderatori Devida, mahasiswa ISIF, ini juga menghadirkan dua narasumber pembanding. Yaitu Lies Marcoes Natsir—akrab disapa mba Lies—, salah seorang penggerak feminisme Islam pertama di Indonesia, selain itu pembanding kedua yaitu Marzuki Wahid, Direktur Fahmina-Institute Cirebon.
Muslimah “Garis Batas"
Muslimah “Garis Batas”, demikian istilah untuk sosok Julia seperti diungkapkan Rektor UIN Syarif Hidayatullah dalam bukunya. Karena latarbelakang akademiknya tidak berkaitan dengan keislaman. Menurut Marzuki Wahid, Julia memang tidak mempunyai background agama yang kuat, namun perspektifnya sangat islami. Karena belajar Islam bukan hanya dari teks saja namun dari spiritnya, sehingga tanpa harus menyebutkan agama, tulisan ini sangat religious.
“Jihad Julia” menghadirkan gagasan intelektual dan kepedulian seorang kolumnis perempuan Indonesia. Penuh wawasan dan pemikiran intelektual demi memperjuangkan kepedulian, keterbukaan, rasionalitas dan prikemanusiaan. Diceritakan juga pengalamannya dengan Kiyai Feminis Islam sekaligus salah satu pendiri Fahmina-institute Cirebon, yaitu KH Husein Muhammad—akrab disapa Buya Husein. Dia menuturkan, Julia adalah salah satu Mbah-nya yang memberi pencerahan terhadap pemikiran Buya Husein.
Sementara mba Lies memaparkan, dalam buku tersebut Julia menggunakan feminis sebagai ‘pisau’ analisis dalam penelitian sosialnya. Feminis adalah orang yang melihat adanya ketimpangan dan basis dari ketimpangannya adalah kesalahan dalam anggapan seks. Feminis selalu menganalisis realitas sosial dengan pendekatan hubungan ini.
Dengan gaya bertuturnya yang mengalir serta memadukan antara penglihatan dengan teori secara kritis namun jenaka, “Jihad Julia” juga menyuguhkan analisis terkait sejumlah gugatan kasus korupsi di negeri ini. Seperti kasus Gayus Tambunan, sang makelar pajak, yang hingga saat ini belum terselesaikan di pengadilan. Serta kasus Bank Indonesia (BI) yang menuntut Susilo Bambang Yudoyono (SBY), yang mau tidak mau harus mengorbankan Sri Mulyani Indrawati.
Hobi menulis yang digelutinya sejak tahun 1970-an, membuatnya selalu ingin menuliskan pengalaman-pengalaman baru yang belum diketahuinya. “Dalam menulis memerlukan kerja otak yang kuat, dan ini menjadi tantanan untuk saya terus menulis. Saya menyebut diri sendiri anarkhis, dalam artian berbeda dengan orang lain. Selalu melintasi batas dalam perjalanan kehidupan,” papar Julia.(Lili)

FAKTA


Prostitusi di Bawah Umur; Kisah Terungkapnya Sindikat ABG di FB

fb-abg
JAKARTA, KOMPAS.com — Andai LCS tidak memacari lelaki itu, sindikat prostitusi ABG (anak baru gede) di situs jejaring sosial Facebook tidak akan terungkap (Baca: Perdagangan ABG Lewat Facebook). Cinta monyet antara LCS dan seorang lelaki membuat persahabatan tujuh ABG retak.
Ketujuh ABG itu adalah "peliharaan" seorang mucikari bernama Dede. Mereka adalah KKS (15), AC (15), VYL (13), ZV (l5), LCS (15), NF (16), dan AS (15). Ketujuh ABG itu tinggal di satu kampung di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Dede adalah tetangga mereka.
Persahabatan LCS dengan keenam temannya retak karena LCS memacari seorang lelaki yang merupakan sahabat keenam temannya itu. Pada suatu hari, keenam teman LCS meminta pertanggungjawaban.
"Ketika LCS dimintai penjelasan soal pacarnya itu, enam teman LCS mengeroyoknya di luar Pasaraya Manggarai hingga babak belur. Anak saya VYL ikut juga menghajar LCS," tutur DD di rumahnya di Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (23/1/2011).
Selanjutnya, melihat wajah anaknya membiru, orangtua LCS melaporkan hal ini kepada guru LCS di sebuah SMP swasta di Jalan Pariaman. Sang guru kemudian memeriksa identitas LCS di akun Facebook. Ia curiga melihat beberapa foto LCS bersama enam temannya dan Dede di dalam kamar sebuah hotel.
Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mengundang semua orangtua, termasuk petugas Kepolisian Sektor Metro Setiabudi. "Saya tadinya dipanggil untuk kasus pengeroyokan. Awalnya, polisi menyampaikan kasus perkelahian remaja. Kemudian, sang guru membeberkan foto-foto muridnya yang terlibat prostitusi via Facebook," ujar DD.
Setelah itu, polisi menyingkirkan kasus perkelahian remaja dan beralih ke kasus lain, yaitu penjualan anak di bawah umur. Petugas menanyakan Dede ke para orangtua yang hadir, apakah ia benar tinggal di sana. "Saya jawab, ia benar sekali. Dede itu tetangga saya," kata DD yang diamini beberapa orangtua lainnya.
Suatu hari, polisi meminta DD menunjukkan rumah Dede dan mengawasi pergerakannya. Beberapa jam kemudian, ujar DD, ada lima petugas Polsek Setiabudi datang ke rumah Dede dan menanyakan hubungannya dengan tujuh gadis di dalam foto itu. "Kepada polisi, dia (Dede) bilang anak-anaknya saja yang bandel. Polisi terus mencecar pertanyaan hingga ia mengaku mengirim L dan kawan-kawan ke sebuah apartemen di Kemayoran," ucap DD.
Akhirnya, Dede dibawa paksa ke kantor polisi. Mengingat TKP berada di Kemayoran, polisi menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat.

remaja

Kabar Dari Remaja Perempuan Indramayu

Kali ini saya datang ke Desa Amis dan Dadap di Indramayu untuk reuni, mendengarkan cerita-cerita sahabat lama yang pada tahun 2007 lalu ikut dalam program kerjasama kami dengan Unicef, yaitu Aku dan Indramayu.
Singkat cerita tentang Aku dan Indramayu, program ini bertujuan agar remaja perempuan bisa menyampaikan pendapat mereka pada masyarakat sekitarnya melalui video diary, tentang kondisi, persoalan yang mereka hadapi di tempat mereka tinggal. Selama 3 bulan 13 remaja perempuan di dua desatersebut memproduksi videonya dan menyampaikannya ke bapak, Ibu, teman, perangkat desa melalui pemutaran di beberapa desa di Indramayu, juga di Bapeda. Ada 4 inti pesan dari mereka di tahun itu:
  1. Adanya tradisi pantang bagi perempuan untuk menolak lamaran pertama sehingga banyak teman kawin muda. Beberapa cerai, menjadi janda dan malu. Melihat hal itu mereka tidak ingin kawin muda.
  2. Mempertanyakan pergaulan di kampungnya, apa sebenarnya yang membuat Ibu melarang bergaul di malam hari.
  3. Berusaha untuk melanjutkan sekolah meski tidak punya biaya. Mereka punya cara untuk ini, yaitu meyakinkan orang tua, ingin bekerja dulu untuk biaya sekolah nantinya.
  4. Bercita-cita ingin menjadi TKW seperti kakaknya, agar bisa untuk membeli rumah, handphone berkamera dll.
Tiga tahun lebih sudah berlalu sejak mereka mempunyai pendapat tersebut. Seperti apa mereka sekarang?
Yang berpesan kalau mereka tidak ingin kawin muda dan mempertanyakan pergaulan di kampungnya sekarang sebagian besar sudah menikah, ada yang mungkin sedang hamil, ada yang cerai saat hamil 3 bulan, ada yang sudah menikah dan adem ayem. Begini obrolan mereka yang saya anggap penting karena menggambarkan apa yang sedang mereka hadapi :
Yang mungkin sedang hamil bercerita kalau sejak puasa dia tidak mens namun hasil tes pack yang dicobanya negatif, “ Kata tukang urut tuh Mbak, nggak ada apa-apa di sini (katanya sambil menunjuk perut) tapi kalau lihat susune, itu tandanya hamil. Ke Bidan wegah, wedi (Nggak mau ke bidan, takut)”. Dia terdiam sebentar lalu bertanya, “Apa jangan-jangan ada penyakit ya Mbak, bisa nggak sih sakit karena nggak mens ?”
Yang ditinggal suaminya untuk kawin lagi, sambil mengayun-ayunkan bayi 5 bulan didalam gendongan kain bercerita kalau bayinya belum pernah diimunisasi karena sering sakit-sakitan. “Kata bidannya tuh nunggu si Merdi pit (fit), baru nanti disuntik”.
Yang adem ayem rumah tangganya bercerita “Saya mah bersyukur mbak, suami saya setia, sayang sama saya, jarang disini ada laki-laki kayak gitu”

Cerita lain datang dari yang ingin meneruskan sekolah, dia bercerita, “ Alhamdulilah mbak, baru tadi pagi ini saya bisa ambil ijazah, padahal tuh sebelumnya nggak bisa, kata pak kepala sekolah saya harus melunasi seluruh administrasinya terebih dahulu. Saya harus bayar hampir 3 juta Mbak, Dulu sih cuma disuruh belajar aja sama guru, nggak usah mikirin biaya, makanya saya juga masuknya ke SMK gratis ini Mbak. Ternyata saya harus bayar SPP bulanan, biaya tahunan, Uji Kompetensi, Baju Korp SMK, Photo, Kunjungan Hotel, ada rinciannya di sekolah. Yang bantu guru-guru saya. Sampai kemarin itu saya masih kurang bayar 361 ribu, tapi ya dari mana saya bisa bayar. Trus guru saya akhirnya yang bayar, dia pake gajinya yang bulan depan”
Cerita lain lagi datang dari yang bercita-cita menjadi TKW. Dan ternyata dia berhasil! Dia bekerja di Syiria selama 3,5 tahun menjadi pembantu seorang ibu berusia 75 tahun. “ Majikan saya baik mbak, saya sih cuma ngepel aja dan makan terus. Yang masak majikan saya, hihihihihi. Ini foto-foto majikan saya. Foto-foto sedang dipeluk, dicium dan sedang tertawa ditengah keluarga majikannya. “ Besok saya ke Jakarta Mbak, mau pasporan dan medical, bulan depan berangkat lagi”.
Sementara itu peserta yang dulunya bercita-cita meneruskan sekolah tapi akhirnya bekerja di Oman,wajahnya mengeras setiap kali dia ingat majikannya yang pelit dan cerewet. “ Harusnya saya pulang dari bulan 5 Mbak, mana saya kangen banget sama anak saya. Saya kan ninggal dia waktu dia umur 4 bulan. Susah banget mau pulang, tiap kali minta tiket disuruh nunggu sampai anak majikan saya lahir, eh udah lahir neh disuruh nunggu sampai anaknya sebulan. Akhirnya sebulan saya nggak mau ngapa-ngapain, saya banting piring di dapur, saya bentak lagi kalau majikan saya bentak. Harus gitu Mbak, awalnya sih saya takut dan nangis aja kalau dibentak, tapi semakin kita itu ya diem aja, semakin diteken. Mana anaknya nakal nakal, belum lagi disuruh makanin kambing punya ibunya. Nggak ada di perjanjian itu Mbak. “Kambing?”, tanya saya. Iya, yaaaah Mbak, Oman itu kalo di Indonesia bukan Jakartanya tapi ya kayak disini ini, Indramayunya sana, kampung. Saya pulang ini kangen sama anak, pengen banget anak saya itu manja-manja sama saya. Tapi saya ini dikira tantenya. Tiap kali adik saya ngingetin si Egi kalo saya ibunya, dia nggak mau”.
Saya menjadi pendengar dalam reuni yang singkat dan hangat itu, sambil terus mengingat bahwa penggalan kisah-kisah itu datang dari perempuan muda yang umurnya tidak lebih dari 19 tahun.
warnadi, thamancommunity

infrastuktur pertanain

Kondisi Waduk Cipancuh

Indramayu - Waduk Cipancuh yang terletak di Desa Situraja Blok Wadukan, Kecamatan Gantar, kondisinya sangat memprihatinkan. Selain mengalami penyempitan dan pendangkalan yang parah, puluhan meter tanggul yang mengelilingi waduk, keadaannya mulai kritis dan banyak yang jebol.
Waduk yang memiliki luas 700 hektare itu semula mampu menampung 13 juta meter kubik air. Namun, kemampuan daya tampung air itu terus berkurang hingga 50 persennya akibat terjadinya pendangkalan maupun penyempitan.
Pendangkalan waduk yang dibangun sejak jaman kolonial Belanda itu disebabkan karena banyak faktor. Diantaranya karena lumpur dan bangkai sampah masuk ke dalam tampungan waduk. Selain itu, sedimentasi juga terjadi karena usia waduk sudah cukup tua.
Sementara, upaya rehabilitasi atau normalisasi waduk yang semestinya dilakukan oleh pihak Perum Jasa Tirta (PJT) II, terkesan diabaikan. Penyempitan arel waduk, lantaran tanah-tanah yang dangkal dirambah dan dibuka sebagai lahan pertanian oleh warga setempat. Jadinya, luas waduk lambat laun makin menyusut.
Parahnya, setiap kali musim penghujan ditandai meluapnya air waduk, kondisi tanggul bendungan terus bergerak dan semakin kritis. Dibeberapa titik malah sudah ada yang jebol. “Tanggul yang rusak diperbaiki, tapi kalau musim hujan lagi, ya rusak lagi,” ujar Riwan (44) warga sekitar.
Diakuinya, kendati sering meluap, air dari waduk Cipancuh tidak limpas dan membanjiri pemukiman penduduk di sekitarnya. Namun jika tidak segera ditanggulangi, ribuan hektare sawah di sejumlah desa wilayah Kecamatan Gantar dan Haurgeulis, terancam kekeringan parah saat musim kemarau.
Kuwu Desa Kertanegara, Kecamatan Haurgeulis, Sukardi ST mengatakan, sudah sejak lama lahan pertanian di desanya tidak lagi mengandalkan pasokan air dari waduk Cipancuh. Fungsi waduk yang semestinya berguna untuk pengairan sawah tidak bisa berjalan maksimal setiap musim kemarau berlangsung.
Sehingga petani di desanya terpaksa melakukan pompanisasi kali Cipancuh yang juga sebagai sumber air utama waduk. “Jaringan saluran irigasinya juga sudah tidak maksimal. Waduk Cipancuh, tidak bisa diandalkan lagi,” terangnya.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi D Drs H Soekarno Hermawan MM menyatakan, pihaknya sudah berkordinasi dengan PSDA Wilayah Citarum Provinsi Jawa Barat, selaku pihak yang memiliki kewenangan terhadap waduk Cipancuh untuk segera melakukan upaya perbaikan.
“Memang sudah banyak aspirasi terkait sudah memprihatinkannya kondisi waduk Cipancuh. Kita serap dan terus berupaya merealisasikannya dengan mendorong pihak berwenang dalam hal ini PJT untuk melakukan tindakan secepatanya,” jelas Soekarno. [RadarCirebon]

Kamis, 03 Februari 2011

Etika berbisnis dengan teman




Home / Wirausaha / Tips


Etika Berbisnis dengan Teman

SHUTTERSTOCK

Tentukan siapa yang akan menjadi bosnya.
GramediaShop : Pangeran Katak Dan Ciuman Mesra GramediaShop : Barbie

Kamis, 04/02/2011 | 08:08 WIB

KOMPAS.com — Banyak pasangan sahabat yang memutuskan untuk bergabung dan menjalankan suatu bisnis bersama-sama. Alasannya sangat masuk akal. Merasa sudah sangat cocok sebagai teman, pasangan sahabat ini berpikir mereka juga akan secara otomatis cocok sebagai mitra kerja.

Ternyata, pemikiran ini tidak selalu benar. Menurut anggapan Ahmad Gozali, konsultan keuangan dari Biro Perencana Keuangan Safir Senduk & Rekan, tidak semua sahabat bisa Anda ajak kerja sama. Persahabatan dan bisnis adalah dua hal yang benar-benar berbeda.


"Alasan paling utama tentu saja karena uang berperan di sini," kata Ahmad. Seperti yang sudah kita ketahui, uang memang berpotensi menjadi pemicu konflik.

Tujuan berbisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan, tetapi bila ini tidak terjadi, kedua orang ini bisa berselisih paham. Apalagi kalau salah satu pihak merasa dicurangi. Sebelum mengajak teman untuk bergabung dalam bisnis, Ahmad menyarankan Anda untuk memikirkannya lebih mendalam. Di bawah ini adalah beberapa faktor yang bisa Anda jadikan pertimbangan:

Jenis usaha. Sebenarnya semua jenis usaha bisa dilakukan bersama mitra kerja. Tidak ada batasan mengenai usaha apa yang semestinya dikerjakan sendiri dan yang dijalankan bersama orang lain. Mau berjualan tanaman atau berdagang pakaian, boleh saja.

Tapi Ahmad mengingatkan, jika ukuran bisnisnya masih terlalu kecil, mungkin lebih baik Anda menjalaninya sendiri terlebih dulu. Apalagi, jika jumlah pesanan masih sangat sedikit. "Kalau skalanya kecil dan yang mengerjakan terlalu banyak, ujung-ujungnya malah bisa ribet," kata Ahmad.

Jumlah mitra

Bagi pemula, menurut Ahmad, jumlah mitra sebaiknya tidak lebih dari tiga orang. Kalau jumlahnya lebih dari tiga, pembagian tugas bisa jadi sulit. "Semakin banyak kepala, semakin sulit menggabungkan ide, pendapat, visi, dan misi," tuturnya.

Minat

Akan sangat baik bila teman yang Anda ajak bergabung memiliki minat yang sama dengan Anda. Ia pun akan menjalani bisnis dengan penuh antusiasme dan tidak merasa terbebani. Kalaupun minatnya berbeda, setidaknya ia mempunyai pengetahuan mengenai usaha yang akan dijalankan. Jangan memilih mitra yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis tersebut.

Pemisahan urusan kerja dari pribadi

Tanyakan hal ini pada diri Anda sendiri, "Bisakah saya membedakan mana yang urusan pekerjaan, dan mana yang murni urusan pribadi?" Banyak masalah usaha timbul karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak mampu memilah-milah dua hal ini. Mereka akhirnya saling menyerang aspek-aspek kehidupan pribadi dan tidak mengacu pada masalah pekerjaan yang sebenarnya.

Pembagian tugas

Tentukan siapa yang menangani bagian apa. Sebaiknya kedua-duanya tidak menangani bagian yang sama karena akan tumpang-tindih dan terjadi kesalahpahaman. Bicarakan hal ini sejak awal dengan sang sahabat.

Kebanyakan pasangan bisnis bergabung karena mereka memiliki kelebihan yang tidak dipunyai temannya. Jadi mereka saling melengkapi. Kalau lebih jago di lapangan dan supel menghadapi orang, mungkin Anda bisa mencari mitra yang bisa menangani urusan dari balik meja, misalnya soal administrasi.

Pembagian ini juga berlaku dalam hal dana. Mitra bisa jadi adalah orang yang menyuntikkan modal dalam nadi usaha Anda. Atau sebaliknya, Anda memiliki modal, tapi tidak punya orang untuk menjalankannya.

Tentukan siapa bosnya

Menurut Ahmad, tidak bisa dua orang menjadi pemimpin pada saat yang bersamaan. Harus dipilih satu orang untuk menjadi pemimpin. Kalau dua-duanya ngotot jadi pimpinan, suasana bisa tegang. Anda dan teman harus menentukan siapa yang menjadi direktur dan siapa yang menjadi wakil direktur. Tempatkan ego Anda berdua di bawah kepentingan usaha. Setelah itu, komunikasikan hal ini kepada karyawan dan klien.

Pembagian keuntungan

Inilah salah satu isu paling sensitif dalam dunia usaha. Besarnya keuntungan yang dibagi harus benar-benar dipahami dan disepakati di awal. Kalau tidak tercapai kesepakatan, lupakan saja rencana ini.

Ahmat berpendapat, pembagian keuntungan ini sifatnya sangat fleksibel. Tidak ada hukum atau undang-undang yang mengatur hal ini. Salah satu hal yang menentukan (pembagian keuntungan) adalah jenis bisnis. Kalau usaha lebih mengacu pada usaha padat modal, pemberi modallah yang semestinya mendapatkan bagian keuntungan lebih besar. Tetapi kalau mengacu pada usaha padat karya, orang yang lebih banyak bekerja di lapanganlah yang seharusnya dihargai lebih.

Pembagian keuntungan atau sistem penggajian bisa bermacam-macam, misalnya tahunan atau bulanan. Jika pembagian hasil baru dilakukan di penghujung tahun, pihak yang bekerja (bukan yang memberi modal) bisa memperoleh gaji meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Di akhir tahun ia akan tetap mendapat pembagian keuntungan, tetapi sudah dikurangi gaji bulanan. Jadi jumlahnya pasti lebih sedikit daripada yang didapat si pemberi modal.

Gaji perlu diberikan setiap bulan kepada pihak yang lebih banyak di lapangan karena diasumsikan orang tersebut pasti keuangannya lebih lemah daripada pihak pemberi modal. Namun, bila pembagian hasil dilakukan per bulan, pihak yang bekerja tidak perlu memperoleh gaji.

Bukan tidak mungkin pembagian keuntungan ini diubah sesuai perkembangan di masa depan.

Intervensi

Siapakah yang punya hak suara dalam usaha Anda? Apakah hanya Anda berdua atau keluarga pun bisa mengintervensi? Perjelas hal ini di awal. Jangan sampai suatu hari nanti usaha Anda direcoki pihak-pihak yang tidak semestinya ikut campur.

Idealnya, kata Ahmad, yang memiliki hak suara hanyalah Anda dan sahabat. Suami-suami bahkan tidak seharusnya campur tangan. Mereka boleh memberi masukan, tetapi pengambilan keputusan tetap berada di tangan Anda berdua. Bila terjadi konflik, Ahmad menyarankan untuk mencari seorang konsultan atau tenaga profesional lain yang bisa diajak berdiskusi. (Tassia Sipahutar)

Etika sahabat

ETIKA BERGAUL (bag. 1)

Oleh : warnadi abdillah
Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, menjadi orang bertakwa yang dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. diantara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai olah orang-orang shalih, diterima oleh hati mereka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda:“Artinya : Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” [Hadits Bukhari dan Muslim,dalam Shahih Jami’ush Shaghir no.283]   Diantara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, diantaranya ia mencintai mereka karena Allah, berakhlak kepada manusia dengan akhlak yang baik, memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia. Berikut ini beberapa dalil yang menguatkan keterangan di atas.Allah berfirman.“Artinya : Pergauilah mereka (isteri) dengan baik”. [An-Nisaa : ’1]“Artinya : Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. [Ali-Imran : 134]Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:“Artinya : Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah Keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]“Artinya : Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.[HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir 1096]
URGENSI PEMBAHASAN ETIKA BERGAUL
Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Walaupun prioritas pertama yang diajarkan olah para Nabi adalah tauhid, namun bersamaan dengan itu, mereka juga mengajarkan akhlak yang baik. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam diutus untuk menyempurnakan akhlak. beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman.“Artinya : Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”.[Al-Qalam 4].
Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :“Artinya : Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]Dengan mempraktekkan adab-adab dalam bergaul, maka kita akan memperolehmanfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat diantara umat Islam, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah telah berfirman.“Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian denga tali (agama ) Allah bersama-sama , dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di Tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk” [Al-Imran : 103].
Oleh karena itu, adab-adab bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja atau terhadap atasan dan bawahan.Jika kita seorang da’i atau guru, maka harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da’i atau lainnya dan dengan mad’u (yang didakwahi)atau terhadap muridnya. Demikian juga apabila seorang guru, atau seorang murid atau apapun jabatan dan kedudukannya, maka kita perlu untuk mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul. Kurang mempraktekkan etika bergaul, menyebabkan dakwah yang haq dijauhi oleh manusia. Manusia menjadi lari dari kebenaran disebabkan ahli haq atau pendukung kebenaran itu sendiri melakukan praktek yang salah dalam bergaul dengan orang lain. Sebenarnya memang tidaklah dibenarkan seseorang lari dari kebenaran, disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Jika inti ajaran yang dibawa oleh seseorang itu benar, maka kita harus menerimanya, dengan tidak memperdulikan cara penyampaiannya yang benar atau salah, etikanya baik atau buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebanyakan orang melihat dulu kepada etika orang itu. Oleh karena itu, mengetahui etika ini penting bagi kita, sebagai muslim yang punya kewajiban saling menasehati sesama manusia, agar bisa mempraktekkan cara bergaul yang benar.
MOTIVASI DALAM BERGAUL
Faktor yang mendorong seorang muslim dalam bergaul dengan orang lain ialah semata-mata mencari ridha Allah. ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata mencari ridha Allah, karena tersenyum merupakan perbuatan baik. Demikian juga ketika seorang muslim membantu temannya atau ketika mendengarkan kesulitan-kesulitan temannya, ketika menepati janji, tidak berkata-kata yang menyakitkan kepada orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari ridha Allah, Demikianlah seharusnya. jangan sebaliknya, yaitu, bertujuan bukan dalam rangka mencari ridha Allah. Misalnya : bermuka manis kepada orang lain, menepati janji, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena kepentingan dunia. atau ketika berurusan dalam perdagangan, sikapnya ditunjukkan hanya semata-mata untuk kemaslahatan dunia. tingkah laku seperti ini yang membedakan antara muslim dengan non muslim. Bisa saja seorang muslim bermuamalah dengan sesamanya karena tujuan dunia semata. Seseorang mau akrab, menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain. Manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi, maka ia berubah menjadi tidak mau kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika oramg lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu bisa terjadi pada diri seorang muslim. Sikap seperti itu merupakan perbuatan salah.
Al-Imam Ibn Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad juz ke-4 hal 249 : “Diantara kecintaan terhadap sesama muslim ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbud, yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya, bisa jadi tujuan yang ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, atau hartanya, atau ingin mendapatkan manfaat berupa ilmu dan bimbingan orang tersebut, atau untuk tujuan tertentu; maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi. atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”. hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Contohnya :seorang karyawan sangat menghormati dan perhatian kepada atasannya di tempat kerja. tetapi apabila atasannya itu sudah pensiun atau sudah tidak menjabat lagi, karyawan ini tidak pernah memikirkan dan memperhatikannya lagi.
Begitu juga ketika seseorang masih menjadi murid, sangat menghormati gurunya. Namun ketika sudah lulus (tidak menjadi muridnya lagi), bahkan sekolahnya sudah lebih tinggi dari gurunya itu, bertemu di jalan pun enggan untuk menyapa.Banyak orang yang berteman akrab hanya sebatas ketika ada kepentingannya saja.yakni ketika menguntungkannya, dia akrab, sering mengunjungi, berbincang-bincang dan memperhatikannya.namun ketika sudah tidak ada keuntungan yang bisa didapatnya, kenal pun tidak mau. Ada juga seseorang yang hanya hormat kepada orang kaya saja. Adapun kepada orang miskin, memandang pun sudah tidak mau. Hal semacam ini bukan berasal aturan-aturan Islam. menilai seseorang hanya dikarenakan hartanya, hanya karena nasabnya, hanya karena ilmunya, yaitu jika kepada orang yang berilmu dia hormat dan menyepelekan kepada orang yang tak berilmu. hal-hal seperti itu merupakan perbuatan yang keliru.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu’Fatawa juz 10, beliau berkata: “Jiwa manusia itu telah diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun pada hakekatnya sesungguhnya hal itu sebagai kecintaan kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik.apabila orang yang berbuat baik itu memutuskan kebaikannya atau perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan demikian bukan karena Allah. Barangsiapa yang mencintai orang lain dikarenakan dia itu memberi sesuatu kepadanya, maka dia semata-mata cinta kepada pemberian. Dan barang siapa yang mengatakan: “saya cinta kepadanya karena Allah”, maka dia pendusta. Begitu pula, barang siapa yang menolongnya, maka dia semata-mata mencintai pertolongan, bukan cinta kepada yang menolong. Yang demikian itu, semuanya termasuk mengikuti hawa nafsu. Karena pada hakekatnya dia mencintai orang lain untuk mendapatkan manfaat darinya, atau agar tehindar dari bahaya. Demikianlah pada umumnya manusia saling mencintai pada sesamanya, dan yang demikian itu tidak akan diberi pahala di akhirat, dan tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Bahkan bisa jadi hal demikian itu mengakibatkan terjerumus pada nifaq dan sifat kemunafikan.
Ucapan Ibnu Taimiyah rahimahullah ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zukhruf 67,artinya: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa. adapun orang-orang bertakwa, persahabatan mereka akan langgeng sampai di alam akhirat, karena didasari lillah dan fillah. Yaitu cinta karena Allah. Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak bertakwa, di akhirat nanti mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Persahabatan mereka hanya berdasarkan kepentingan dunia. Diantara motto mereka ialah: “Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi”.
Dasar persahabatan mereka bukan karena dien, tetapi karena kepentingan duniawi. Berupa ambisi untuk mendapatkan kekuasaan, harta dan sebagainya dengan tidak memperdulikan apakah cara yang mereka lakukan diridhoi Allah, sesuai dengan aturan-aturan Islam ataukah tidak.
[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. Di ambil dari :www.almanhaj.or.id